RESUME KE-14 Narasumber: M.Firman Suwarya Materi: Free Writing. Freewriting adalah teknik menulis cepat tanpa hambatan. Pak Firman mengawali sajian materi dengan kalimat, ”jika saya menantang Anda untuk menulis 1 hari 5 lembar dalam 30 hari, kira-kira sanggup atau tidak? Jika anda berani konsisten menulis 5 lembar perhari, saya yakin bapak ibu akan menjadi seorang penulis yang handal dan produktif. Saya yakin seluruh peserta pasti bisa dan sanggup.” Pak Firman juga berbagi pengalamannya dalam menulis. Beliau bercerita bahwa ada lingkaran kebuntuan yang bisa menjerat siapa saja. Berdasarkan uraian materi dari beliau dan dari jawaban atas pertanyaan yang diajukan peserta, maka saya menyusun bagian penting dari free writing. Bagian tersebut yaitu: ΓΌ Langkah pertama yang harus dilakukan supaya bisa freewriting adalah segera tulis ide yg muncul; segera tulis, dan tulis sebelum ide itu hilang; menulis ide yg muncul itu sangat mudah,kapan dan dim...
*Ikut ambil bagian, belajar untuk mengeksplor potensi diri* Terkadang tidak disadari bahwa sebenarnya kita memiliki banyak potensi. Karena kurangnya pengetahuan bagaimana cara menggali potensi itu, akhirnya tenggelam begitu saja. Potensi kita menjadi hilang, tidak bermanfaat, baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Mari bersama-sama belajar untuk membongkar semua sumber daya yang ada dalam diri kita. Bagaimana caranya? Tunggu tayangannya setelah ada yang komentar. Tks. #menulisbersamaPGRI
Setelah keluarnya kebijakan pemerintah tentang masa "New Normal," tidak dapat dipungkiri banyak tanggapan antara pro dan kontra di masyarakat. Apalagi bagi orang tua yang masih merasa belum yakin akan kondisi saat ini. Sebagian besar orang tua cemas akan anaknya jika nanti tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran. Tidak lama kemudian kembali keluar kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan yang menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka hanya dilaksanakan oleh daerah yang tergolong zona hijau. Untuk daerah zona merah, tetap melanjutkan pembelajaran daring. Bagaimana dengan guru? Apakah siap menghadapi kondisi pembelajaran dalam masa "New Normal" ini? Lalu, bagaimana dengan siswa? Mampukah mereka mengikutinya? Apakah nantinya pembelajaran dalam masa "new normal" ini bisa diterima siswa? Bagaimana guru tahu kalau tujuan pembelajaran akan tercapai? Masih banyak lagi pertanyaan yang pasti berkecamuk di benak para pendidik Indonesia. Beriku...
Komentar
Posting Komentar
Palus Wei (silakan koment)